Minggu, 27 Oktober 2019


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN 6
“Skrinning Fitokimia Bahan Alam”


VII. Data Pengamatan
            1.   Pemeriksaan Alkaloid
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dihaluskan simplisia disini kami menggunakan daun pandan, ditambahkan kloroform + silica. Setelah halus basahi dengan 10 ml kloroform, gerus lagi dan ditambahkan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N dan gerus lagi. Kemudian saring pada tabung reaksi tambah  10 tetes asam sulfat 2N dikocok. Lapisan asam didekantasi dan dipindahkan kedalam 3 tabung reaksi dan ditambahkan 1 tetes reagen mayer, wagner, dan dragendorf.
-     Meyer
Pada uji Meyer, positif menghasilkan alkaloid dimana yang terbentuk yaitu adanya endapan putih.
-       Wagner
Pada uji wagner positif terbentuk alkaloid karena menghasilkan warna coklat.
-       Dragendorf
Pada uji Dragendorf, positif menghasilkan senyawa alkaloid, dimana warna yang dihasilkan berwarna orange.

             2.   Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Haluskan simplisia buncis atau daun rambutan didalam Erlenmeyer dan ditambahkan 25 ml etanol diaduk, kemudian panaskan diatas penangas air. Disaring dalam keadaan panas diuapkan menggunakan penangas sehingga menghasilkan ekstrak etanol. 
      Setelah itu dititrasi dengan sedikit eter dan ditempatkan pada 2 lobang plat tetes, pada plat pertama ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat. Pada plat kedua ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat.
a.    Steroid :
pada uji ini menghasilkan warna hijau dengan simplisia buncis ataupun rambutan.
b.   Terpenoid:
pada uji ini menghasilkan warna orange kemerahan dengan simplisia buncis, sedangkan pada daun rambutan tidak mengandung terpenoid.

             3.   Pemeriksaan Flavonoid
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan ekstrak kulit batang nangka kedalam gelas piala kemudian ditambahkan 10 ml aquades dipanaskan sampai mendidih 5 menit. Setelah itu disaring, filtratnya dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu tambahkan pita Mg 1 ml HCl pekat dan 1 ml amil alcohol kemudian dikocok dengan kuat.


Uji positif, ditandai dengan adanya warna kuning pada lapisan amil alcohol

             4.   Pemeriksaan Saponin
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan sampel buncis atau daun rambutan kedalam gelas piala kemudian ditambahkan 10 ml air panas dan didihkan selama 5 menit. Setelah itu saring, filtratnya digunakan sebagai uji dan kocok dalam tabung reaksi diamkan selama 10 menit, lalu tambahkan 1 ml HCl 2M.
·      Uji pada buncis, positif menghasilkan busa yang lumayan banyak dan busa bertahan sampai seminggu.
·      Uji pada daun rambutan, positif menghasilkan busa banyak tetapi busa tidak bertahan lama.

             5.   Pemeriksaan Kuinon
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Simplisia tumbuhan daun pandan atau kayu manis di potong halus, kemudian diekstraksi dengan eter
Pada kedua tumbuhan ini positif mengandung kuinon dengan terbentuknya warna hijau dan coklat kehitaman mengikuti warna simplisia.

             6.   Pemeriksaan Kumarin
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Ekstrak daun inai dideteksi keberadaan kumarin nya dengan cara ekstrak etanol dan methanol di kromatografi lapis tipis, dengan menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat: methanol (9:1) atau (8:2)

Pada pemakaian TLC menghasilkan warna biru


VIII. Pembahasan
            Pada percobaan kali ini yaitu tentang skrinning fitokimia senyawa bahan alam. Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu agar dapat mengenal dan memahami teknik-teknik skrinning fitokimia bahan alam, dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrinning fitokimia bahan alam, serta agar dapat melakukan skrinning fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan. Skrinning merupakan pemeriksaan kimia terhadap senyawa aktif biologis dari bahan alam yang terdapat pada simplisia tumbuhan atau makhluk hidup lainnya. Senyawa aktif tersebut merupakan senyawa organic, sehingga pada pemeriksaan skrinning fitokimia ditujukan pada senyawa organic seperti alkaloid, steroid, terpenoid, flavonoid, saponin, kuinon, dan juga kumarin. Hasil pemeriksaan kandungan kimia yang terdapat dalam suatu tumbuhan tergantung pada banyaknya kandungan senyawa kimia yang diidentifikasi dan juga tergantung pada sensitivitas dari prosedur yang dianalisis. Metode skrinning fitokimia umumnya dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna seperti reagen wagner, meyer, dragendorf, dan sebagainya. Dalam skrinning fitokimia ini ada hal yang harus diperhatikan, yaitu dalam pemilihan pelarut yang akan digunakan dan metode ekstraksi yang akan dilakukan. 
Pada percobaan kali ini kami melakukan skrinning fitokimia pada senyawa bahan alam alkaloid, steroid dan terpenoid, flavonoid, saponin, kuinon, dan juga kumarin. Adapun hasil dari masing-masing pemeriksaan uji tersebut adalah sebagai berikut:
8.1  Pemeriksaan Alkaloid 
Alkaloid merupakan suatu golongan senyawa organic yang terbanyak ditemukan di alam. Uji alkaloid biasanya diperoleh dengan cara mengekstrak bahan tumbuhan menggunakan asam yang dapat melarutkan alkaloid, bahan tumbuhan kemudian diekstrak dengan pelarut organic seperti kloroform, eter, dan sebagainya. Skrinning pada alkaloid ini kami menggunakan daun pandan sebagai simplisia yang akan diuji. Pada simplisia yang sudah dihaluskan ditambahkan dengan 10 ml kloroform dan digerus kembali dan ditambahkan dengan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N. kemudian disaring pada tabung reaksi. Setelah itu ditetesi dengan 10 tetes asam sulfat 2N dan dikocok. Terakhir lapisan asam yang terbentuk tersebut didekantasi dengan cara dipindahkan kedalam 3 tabung reaksi dan ditambahkan 1 tetes reagen meyer, wagner, dan dragendorf. Reagen Meyer umumnya mengandung Kalium Iodida dan merkuri korida. Pada uji Meyer, hasil yang didapatkan yaitu positif karena ditandai dengan adanya endapan putih. Pada uji Wegner, juga positif mengandung alkaloid karena warna yang ditimbulkan berwarna coklat. Selanjutnya pada pereaksi dragendorf, pereaksi ini umumnya mengandung Bismut (III) nitrat, asam nitrat dan kalium Iodida. Pada uji dragendorf ini juga didapatkan hasil yang positif mengandung alkaloid pada sampel. Karena pada uji ini menimbulkan warna orange.
8.2  Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
Pada pemeriksaan uji steroid dan terpenoid ini, kami menggunakan simplisia tanaman buncis dan juga daun rambutan. Simplisia yang telah dihaluskan ditambahkan dengan 25 ml etanol dan diaduk, kemudian kami panaskan diatas penangas air. Setelah dipanaskan, kemudian disaring dalam keadaan panas dan diuapkan menggunakan penangas kembali sampai menghasilkan ekstrak etanol. Setelah terbentuk ekstrak, dititrasi kembali dengan sedikit eter dan ditempatkan pada plat tetes. Pada plat tetes pertama ditambahkan dengan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, dan pada plat tetes yang kedua ditambahkan dengan asam sulfat pekat. Sehingga hasil yang didapatkan pada uji steroid yaitu menghasilkan warna hijau dengan simplisia buncis ataupun daun rambutan berarti dapat disimpulkan pada buncis dan daun rambutan ini mengandung steroid. Sedangkan pada uji terpenoid simplisia buncis menghasilkan warna orange kemerahan berarti hal ini menandakan bahwa buncis juga mengandung terpenoid. Sedangkan pada daun rambutan tidak menimbulkan warna seperti pada buncis, hal ini berarti pada daun rambutan tidak mengandung terpenoid.
8.3  Pemeriksaan Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Skrinning pada uji pemeriksaan flavonoid ini kami menggunakan simplisia kulit batang nangka. Ekstrak kulit batang nangka yang telah dihaluskan dimasukkan kedalam gelas piala dan ditambahkan dengan 10 ml aquades dan dipanaskan sampai mendidih selama 5 menit. Setelah itu filtratnya disaring dan dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan 1 ml HCl pekat dan 1 ml amil alcohol dan dikocok dengan kuat. Setelah itu didapatkan hasil warna kuning sedikit orange pada lapisan amil alcohol. Dapat disimpulkan berarti bahwa pada kulit batang nangka ini mengandung flavonoid.
8.4  Pemeriksaan Saponin
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks hasil dari kondensasi senyawa hidroksil berupa gula dan senyawa hidroksil organic. Untuk mengidentifikasi senyawa saponin dalam tumbuhan dapat dilakukan dengan merajang halus sampel yang akan digunakan. Pada pemeriksaan saponin ini kami menggunakan buncis dan daun rambutan sebagai simplisia. Pada uji saponin ini sampel buncis dan daun rambutan dimasukkan kedalam gelas piala dan ditambahkan 10 ml air panas dan dididihkan selama 5 menit. Setelah dipanaskan filtratnya disaring, dan digunakan sebagai bahan uji dan dikocok dengan kuat dalam tabung reaksi dan didiamkan selama 10 menit. Lalu ditambahkan dengan 1 ml HCl 2M. Pada uji saponin ini, hasil dikatakan benar mengandung saponin apabila busa yang dihasilkan stabil dalam waktu 5 menit. Pada simplisia buncis busa yang didapatkan lumayan banyak dan busa bisa bertahan lama lebih dari waktu 5 menit, berarti hal ini menandakan bahwa sampel buncis ini positif mengandung saponin. Sedangkan, pada uji sampel daun rambutan juga positif mengandung saponin karena juga menghasilkan banyak busa. Namun, busa nya tidak bertahan lama namun lebih dari waktu 5 menit.
8.5  Pemeriksaan Kuinon
Pada uji kuinon ini kami menggunakan simplisia daun pandan dan juga kayu manis atau kulit kina yang telah dihaluskan. Simplisia ini kemudian diekstraksi dengan menggunakan eter. Tujuan dilakukannya ekstraksi ini yaitu agar hasil yang didapatkan terpisah dari zat pengotornya alias hasil yang didapatkan bersifat murni. Setelah sampel diekstraksi dengan menggunakan etanol, pada kedua simplisia ini mengandung kuinon karena ditandai dengan terbentuknya warna hijau pada simplisia daun pandan dan coklat kehitaman pada simplisia kulit kayu manis. Pemeriksaan kuinon ini dikatakan hasilnya positif apabila simplisia yang telah digunakan saat diuji menghasilkan atau mengikuti warna asli simplisia tersebut. Jadi pada daun pandan dan kulit kayu manis ini positif mengandung kuinon.

8.6  Pemeriksaan Kumarin
Kumarin merupakan senyawa fenol yang sering ditemukan dalam tanaman. Hampir semua seluruh bagian dari tanaman dimulai dari akar, batang, daun, bunga, dan buah mengandung senyawa kumarin. Pada uji pemeriksaan kumarin ini, kami menggunakan sampel daun inai sebagai simplisia. Kumarin pada daun inai ini dideteksi dengan cara ekstrak etanol dan methanol pada kromatografi lapis tipis, dengan menggunakan bahan eluen etil asetat atau etil asetat dan methanol dengan perbandingan 9:1atau 8:2. Hasil yang didapatkan pada pemakaian TLC menghasilkan warna biru. Pada uji kumarin ini perbandingan eluen etil asetat dan methanol nya harus sesuai agar nantinya tidak memengaruhi hasil yang didapatkan.

IX. Pertanyaan Pasca Praktikum
1.   Pada uji saponin dengan sampel buncis dan daun rambutan sama-sama positif mengandung saponin karena telah menghasilkan busa. Namun, mengapa busa yang dihasilkan pada buncis lebih bertahan lama dibandingkan busa yang dihasilkan oleh daun rambutan ?
2.   Pada uji pemeriksaan steroid dan terpenoid setelah bahan diuapkan dan menghasilkan ekstrak etanol mengapa harus dititrasi kembali dengan eter ?
3.   Mengapa pada pemeriksaan uji kumarin pada simplisia harus menggunakan eluen etil asetat dan metanol yang sebanding ?

X. Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :
1.      Skrinning fitokimia merupakan pemeriksaan kimia terhadap senyawa aktif biologis dari bahan alam yang terdapat pada simplisia tumbuhan. Skrinning fitokimia ini dapat dilakukan dengan teknik destilasi maupun ekstraksi.
2.      Pada skrinning fitokimia ini menggunakan pereaksi larutan yang sesuai. Pada alkaloid menggunakan pereaksi wagner, pereaksi meyer, dan dragendorf. Sedangkan pada jenis steroid dan terpenoid dapat digunakan dengan pereaksi Liebermann Buchard, dan untuk identifikasi flavonoid dapat menggunakan pereaksi shinoda dan larutan NaOH 10%.

XI. Daftar Pustaka
      Abdul, R. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
       Bhat, S. V., B. A. Nagasampagi and S. Meenakshi. 2009. Natural Products: Chemistry and
               Application
. New Delhi India : Narosa Publishing House.
       Gunawan, D dan Mulyadi S. 2004. Analisis Struktur Senyawa Organik secara Spektroskopi.
             
Jakarta : Penebar Swadaya.
      Marliana, dkk. 2005. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Isoflavon pada Tanaman Kacang.
              Jurnal Kimia Vol 11. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
      Tim Kimia Organik, 2015. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi : Universitas
              Jambi.
XII. Lampiran

Sabtu, 26 Oktober 2019


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN 5
“Pembuatan Senyawa Organik Asam Benzoat dan Benzil Alkohol”




VII. Data Pengamatan
No
Prosedur Kerja
Pengamatan
1.
Dilarutkan 27 gr kalium padat dalam 25 ml air disebuah Erlenmeyer dan dituangkan pada larutan 29 ml benzaldehid yang baru didestilasi, kocok sampai terjadi emulsi dan diamkan selama 10 jam dalam sebuah tempat tertutup 




Terbentuk emulsi berwarna coklat
2.
Ditambahkan air 110 ml, larutan dipindahkan dalam corong pisah, diekstraksi tiga kali dan kocok kuat-kuat kemudian diamkan sebentar
Emulsi larutan berwarna coklat muda, dan timbul bau seperti balon, terbentuknya lapisan atas dan bawah
3.
Dipisahkan lapisan atas dan bawah, destilasi lapisan atas didinginkan dan di kocok kemudian ditambahkan 5 ml larutan jenuh bisulfat
Warna menjadi coklat tua dan keruh, saat ditambahkan natrium bisulfit warna kembali pucat dan terbentuk 2 lapisan
4.
Dicuci dengan 10 ml Natrium Karbonat (10%) dan dikeringkan dengan menambahkan 5 gr anhidrat magnesium sulfat kemudian disaring dan destilasi

Muncul endapan berwarna putih susu dan timbul panas
5.
Disaring endapan, dicuci dan diuapkan lalu diperiksa titik lelehnya
Terdapat filtrat berwarna putih, dan saat diuapkan berbentuk kristal berwarna putih, kristal tersebut merupakan asam benzoate


VIII. Pembahasan
Pada percobaan kali ini yaitu tentang pembuatan senyawa organik asam benzoat dan benzil alkohol. Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini yaitu untuk dapat memahami reaksi oksidasi dan reduksi aldehid yang tidak memiliki H alfa, dan untuk memahami reaksi yang terjadi pada senyawa aldehid akibat penambahan basa kuat, serta dapat mempelajari cara membuat asam benzoat dan benzil alkohol. Asam benzoat ini merupakan senyawa organik yang berwujud padat kristal, berwarna putih, dan mempunyai bau yang menyengat. Sedangkan benzaldehide ini merupakan senyawa aldehid yang memiliki gugus fungsi karbonil dan dapat mengalami reaksi antara adisi nukleofilik dengan nukleofil. Dalam kehidupan sehari-hari, asam benzoat ini digunakan sebagai bahan pengawet makanan dan juga sebagai bahan baku obat-obatan. Asam benzoate dan benzyl alcohol ini dapat dibuat dengan cara menambahkan basa kuat dan juga dalam pemanasan. Pada penambahan basa kuat terhadap kedua senyawa ini akan terjadi reaksi reduksi yang menghasilkan senyawa alcohol dan garam karboksilat. Pada percobaan ini, 27 gram kalium padat dilarutkan dalam 25 air dan ditambahkan 29 ml benzaldehid hasil destilasi dan saat dikocok terdapat emulsi. Setelah didiamkan selama 10 jam terbentuk emulsi berwarna coklat. Kemudian, ditambahkan kembali air sebanyak 110 ml dan larutan tersebut dipindahkan ke corong pisah guna untuk di ekstraksi sebanyak 3 kali sambil dikocok kuat. Pengocokan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan reaksi. Sedangkan ekstraksinya dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan guna agar filtrat atau hasil yang didapatkan benar-benar murni atau benar-benar terpisah dari zat pengotornya. Pada saat proses pengocokan berlangsung, sesekali kran pada corong harus dibuka agar gas yang terdapat didalamnya bisa menguap keluar. Saat proses ekstraksi selesai dan didiamkan selama beberapa saat, emulsi tersebut berubah warna menjadi coklat muda dan menimbulkan bau seperti bau balon, serta larutan tersebut membentuk dua lapisan yaitu lapisan bawah dan lapisan atas. Larutan lapisan atas kemudian dipisahkan dengan larutan lapisan bawah guna pendestilasian. Saat larutan lapisan atas tersebut didinginkan, dikocok dan kemudian ditambahkan dengan 5 ml larutan jenuh bisulfat warna larutan menjadi coklat tua dan keruh. Namun saat ditambahkan dengan natrium bisulfit warna larutan kembali pucat dan terbentuk 2 lapisan, hal tersebut menandakan bahwa larutan tersebut masih mengandung sisa benzaldehid yang tidak digunakan dalam reaksi. Penambahan natrium bisulfit ini benar-benar membuat larutan terpisah menjadi 2 lapisan dengan batas yang sangat jelas, sehingga mudah dipisahkan. Kemudian, larutan hasil pemisahan tadi dicuci dengan 10 ml Natrium karbonat (10%) dan dikeringkan dengan menggunakan 5 gr anhidrat magnesium sulfat kemudian disaring dan didestilasi. Tujuan dicuci nya larutan tersebut dengan natrium karbonat 10%  yaitu untuk mendapatkan larutan benzyl alcohol yang lebih murni. Setelah dilakukan pencucian ini didapatkan endapan berwarna putih susu dan endapan tersebut terasa panas. Kemudian endapan tersebut disaring, dicuci dan diuapkan serta diperiksa titik lelehnya. Setelah disaring, terdapat filtrate berwarna putih, dan saat diuapkan filtrate tersebut berbentuk Kristal yang berwarna putih. Kristal tersebut merupakan asam benzoate. Pada percobaan ini terjadi reaksi canizarro, dimana sebagian aldehid teroksidasi dan sebagian lagi tereduksi. Dan pada saat penambahan basa kuat terhadap senyawa aldehid ini, telah terjadi reaksi reduksi yang menghasilkan senyawa alcohol yang berupa benzyl alcohol dan garam karboksilat yang berupa asam benzoat.

IX. Pertanyaan Pasca Praktikum
  1. Mengapa pada sintesis pembuatan senyawa organic asam benzoate dan benzyl alcohol ini perlu dilakukan pencucian dengan menggunakan Natrium Karbonat (10%)
  2. Pada saat pemisahan dengan menggunakan corong pisah, mengapa larutan tersebut perlu diekstraksi sebanyak 3 kali?
  3. Pada saat larutan telah dipisahkan dan didestilasi, mengapa saat ditambahkan dengan 5 ml larutan jenuh bisulfat warna larutan yang awalnya coklat bisa berubah warna  menjadi pucat ?


X. Kesimpulan
            Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
  1. Pada percobaan sintesis asam benzoate dan benzyl alcohol ini terjadi reaksi canizarro, yaitu reaksi dimana senyawa aldehid sebagian teroksidasi dan sebagian tereduksi.
  2. Pada saat penambahan basa kuat terhadap senyawa aldehid telah terjadi reaksi reduksi yang menghasilkan senyawa alcohol berupa benzyl alcohol dan garam karboksilat yang berupa asam benzoate.
  3. Asam benzoate dan benzyl alcohol ini dapat disintesis dengan cara bahan benzaldehid yang digunakan ditambahkan dengan basa kuat dan dipanaskan.


XI. Daftar Pustaka
Astawan. 2015. Teknologi Pengawetan Pangan Edisi III. Jakarta: UI Press.
Day, R.A dan A.L. Underwood. 1988. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi ke-3. Jakarta:
        Erlangga.
Fessenden , R.J. and J.S Fessenden. 1986. Kimia Organik Dasar Edisi Ketiga Jilid 2.
       
Terjemahan oleh A.H. Pudjaatmaka. Jakarta: Erlangga.
Hart, H. Craine L.E and Hart D.J. 2003. Kimia Organik Edisi Ke Sebelas. Jakarta:
        Erlangga.
      Tim Kimia Organik, 2015. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi : Universitas
              Jambi.

XII. Lampiran




Selasa, 22 Oktober 2019



LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN  4
“ PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ESTER METIL SALISILAT (MINYAK GANDAPURA)






DISUSUN OLEH :
ENDAH SULITYAWATI. RYT
(RSA1C117013)



DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Labu dasar bulat yang berisi campuran asam salisilat 28 gr, methanol 81ml, dan asam sulfat pekat 8 ml, dikocok.
          Larutan berwarna bening
Selanjutnya, refluks selama 1,5 jam biarkan campuran menjadi dingin kemudian destilasi dengan penangas air. Setelah destilasi dinginkan larutan dan tuang kedalam corong pisah + 250 ml air kocok kuat-kuat

Terbentuknya 2 lapisan zat cair dan warna larutan berubah sedikit menjadi kuning
Tambahkan larutan NaHCO3 dan magnesium sulfat
 Larutan mengering dan terbentuk ester salisilat
Saring dan filtratnya langsung ditampung dalam labu destilasi, kemudian destilasi diatas penangas
  Terbentuk bau khas seperti balsam
Di dinginkan
Larutan bening dan bau balsam (Minyak gadapura)
VII. Data Pengamatan

VIII. Pembahasan
Pada percobaan kali ini yaitu tentang pembuatan senyawa organik ester metil salisilat atau minyak gandapura. Tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu agar dapat mengetahui dan memahami cara pembuatan minyak gandapura secara sintetis dari asam salisilat dan methanol serta agar dapat mengetahui jenis reaksi sintesis pembuatan minyak gandapura. Minyak gandapura bisa dikatakan sebagai minyak gosok yang mampu meringankan rasa nyeri atau linu pada tulang dan tidak mempunyai efek samping yang serius bagi kulit. Komponen utama dalam minyak gandapura adalah senyawa metil salisilat yang kandungannya dapat mencapai 98%. Metil salisilat ini dapat dibuat atau disintesis dengan cara melalui reaksi esterifikasi antara metanol dan asam salisilat dengan bantuan H2SO4 sebagai katalisator dan akan menghasilkan minyak gandapura. Asam salisilat ini merupakan suatu bahan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari karena dilihat dari fungsinya yaitu asam salisilat ini dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan antiseptik, analgesik, maupun sebagai bahan untuk keperluan farmasi. Pada percobaan ini, pada saat campuran asam salisilat 28 gram, methanol 81 ml, dan 8 ml asam sulfat pekat dimasukkan kedalam labu dasar bulat dan dikocok menghasilkan warna larutan menjadi bening. Penambahan asam sulfat pekat disini bertujuan untuk memberi sifat asam pada larutan yang terbentuk. Setelah direfluks selama 1,5 jam dan campuran didiamkan sampai menjadi dingin kemudian didestilasi dengan penangas air. Setelah didestilasi campuran larutan tersebut didinginkan kembali dan dimasukkan kedalam corong pisah lalu ditambahkan dengan 250 ml aquades dan dikocok kuat. Setelah dikocok kuat ternyata campuran larutan tersebut menghasilkan 2 lapisan zat cair dan larutan berubah warna menjadi sedikit berwarna kuning. Setelah larutan berwarna kuning, kami menambahkan larutan NaHCO3 dan magnesium anhidrat sulfat dengan tujuan untuk mengeringkan larutan tersebut. Kemudian setelah didiamkan beberapa menit larutan menjadi kering dan terbentuk ester salisilat. Setelah terbentuk ester salisilat kemudian disaring kembali dan hasil filtratnya langsung ditampung kedalam labu destilasi dan didestilasi kembali diatas penangas dan menghasilkan larutan yang berbau khas seperti bau balsam. Setelah itu kami dinginkan kembali larutan tersebut dan larutan berubah menjadi bening dan berbau khas seperti balsam. Hal ini berarti menandakan bahwa larutan yang berbau khas seperti balsam itu merupakan minyak gandapura. 

IX. Pertanyaan Pasca Praktikum 
  1. Mengapa setelah ditambahkan dengan NaHCO3 dan magnesium anhidrat sulfat larutan bisa  mengering ? bagaimana reaksi yang terjadi pada proses tersebut?
  2. Mengapa pada saat hasil filtratnya disaring larutan tersebut mengeluarkan bau khas seperti bau balsam ?
  3. Pada percobaan ini, asam sulfat digunakan sebagai katalisator, namun perlu pula dilakukan dengan pemanasan. Apakah asam sulfat bisa digantikan dengan katalisator yag lain sehingga tidak perlu dilakukan pemanasan ?

X. Kesimpulan
  1. Pada pembuatan minyak gandapura ini terjadi reaksi esterifikasi. Reaksi esterifikasi adalah reaksi yang mereaksikan sebuah devirat asam karboksilat (asam salisilat) dan alcohol primer (methanol) pada suasana asam dengan katalis H2SO4 dengan suhu yang tinggi untuk menghasilkan senyawa utama berupa ester dan produk samping berupa air.
  2. Metil salisilat dapat diperoleh dari sintesis asam salisilat dengan methanol dengan bantuan H2SO4 pekat berdasarkan prinsip reaksi esterifikasi

XI. Daftar Pustaka
Fahmi.2018.Peningkatan Produktivitas dan Perekonomian Minyak Gandapura (Gaultheria Fragantissima) dengan menerapkan mesin ekstraktor inaktivasi enzim gaultherase.Abadi InsanUniversitas Mataram.
Fessenden J.R dan Fessenden S.J.1981.Kimia Organik.Jakarta:Erlangga
Firdaus.2009.Teknik Laboratorium dan Penuntun Praktikum Kimia Organik. Makassar: Laboratorium Kimia OrganikJurusan Kimia FMIPA Universitas Hassanudin
Irwandi.2014. Perancang Pabrik Asam Salisilat dan Phenol. Bandung:Jurusan Teknik Kimia FTI Institut Teknologi Nasional
Tim Penuntun Kimia Organik 2.2015. Penuntun Kimia Organik 2.Jambi:Universitas Jambi


XII. Lampiran

  Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran Latar Belakang Permasalahan : Kimia merupakan suatu ilmu yang m...